Kejuaraan Pencak Silat

Kejuaraan Pencak Silat RAUF CUP 2026 di Bima Menuai Protes dan Dinilai Curang

Zona Kasus
, Januari 26, 2026 WAT
Last Updated 2026-01-26T16:14:22Z


Bima, zonakasus.com - Kejuaraan terbuka pencak silat dalam rangka memperebutkan piala RAUF CUP 2026 di Bima menuai sorotan tajam dari beberapa pihak.


Sejumlah pihak menilai bahwa penyelenggaraan lomba, khususnya cabang pencak silat, tingkat usia dini II, Pra Remaja, Remaja dan dewasa dinilai amburadul dan curang.


Awal diprotes keras datang dari pendamping peserta dari lembah putih, yakni Dion asal Desa Ranggo, Kecamatan Pajo, Kabupaten Dompu. Ia dirugikan dengan kecurangan panitia. 


"Saya kecewa dengan iven ini, anak saya yang lebih awal hadir 4 hari yang lalu, tapi belum ada kesempatan untuk bertanding, pernyataan panitia ini berbeda-beda tidak ada yang searah," ungkap Dion, Senin (26/1/2026) malam.


Menurutnya, pihak panitia diduga tidak profesional dan mengabaikan nasib rombongan yang hadir dalam mengikuti kompetisi tersebut sehingga merugikan bagi peserta.


"Peserta yang sudah bermain atau ketemu disaat semi final bisa ketemu lagi antara peserta 30 kilo dengan 18 kilo, panitia ini tidak profesional," kesalnya. 


Protes keras juga datang dari orang tua peserta Iwan asal Desa Bara, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu. Ia menilai, iven tersebut sudah keluar dari jadwal yang direncanakan.


"Even ini terjadwal sejak tanggal 23 sampai 25 Januari, tapi sampai tanggal 27 ini pun masih berlaku, ini saja sudah molor kegiatannya," ujar Iwan.


Kendati demikian, lanjut Iwan, pihak panitia seharusnya dapat memberikan informasi yang jelas terhadap pendamping peserta maupun wali murid peserta.



"Panitia harusnya memberikan informasi yang jelas ke kita, terutama banyaknya peserta, tetapi pihak panitia tidak memberikan informasi sehingga sebagian juga ada yang ingin minta kembali uang pendaftaran," kesalnya lagi.


"Bobroknya lagi, ada sebagian peserta yang tidak pernah tampil sampai malam ini, even ini terburuk sepanjang sejarah," tandasnya. 


"Malam ini juga banyak peserta yang minta kembalikan uang pendaftaran dan pulang," pungkasnya. 


Sementara pihak panitia yang dikonfirmasi terkait kebobrokan even tersebut, Om Rul menyatakan bahwa kegiatan itu menggunakan dua cara yakni cara manual dan IT.


"Kalau molor waktu ini, dia menggunakan manual, beda dengan menggunakan IT, kalau menggunakan IT itu dia tidak ada istilah main ulang," papar Om Rul.


"Kalau sudah dipanggil tiga kali kemudian tidak hadir, mereka dianggap diskualifikasi, kalau manual itu lebih mengedepankan perasaaan," jelas Om Rul.


Pantauan zonakasus.com di lapangan, para peserta banyak yang meminta kembali uang pendaftaran dan malam ini juga banyak yang pulang dan merasa kecewa. [ZK-Jaya BY]

SepekanMore